Tampilkan postingan dengan label TIPS PENDIDIKAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TIPS PENDIDIKAN. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Oktober 2010

SKL Ujian Nasional IPA SMP 2011

Standar kompetensi Lulusan (SKL) IPA 
Ujian Nasional SMP tahun 2011
1.Melakukan pengukuran dasar secara teliti dengan menggunakan alat ukur yang sesuai dan sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
a) Menentukan besaran fisika dan satuan yang sesuai
b) membaca alat ukur

2. Menerapkan konsep zat dan kalor serta kegunaannya dalam kehidupan sehari-hari
a) Menentukan salah satu variabel dari rumus p = V/m
b) Menjelaskan pengaruh suhu dan pemuaian dalam kehidupan sehari-hari
c) Menentukan salah satu variabel dari rumus kalor

Sabtu, 23 Oktober 2010

MAU BERPRESTASI? JADILAH MURID YANG MALAS!

       Benarkah judul itu? Ya benar, selama artikel ini selesai dibaca dan mau mengaplikasikan apa yang ada di sini. Sebelumnya mari kita cari tahu arti malas itu sendiri. “MALAS” menurut terjemahan bebas( menurut saya) adalah ketidak mau-an untuk melakukan sesuatu ataupun kalau melakukan, maka akan dilakukan dengan keengganan atau ogah-ogahan hingga hasilnya akan gagal atau tidak maksimal.
Sebaliknya rajinpun juga tidak selamanya membuahkan kesuksesan atau hasil yang positif jika bukan pada tempatnya. “RAJIN” definisi bebasnya adalah keinginan yang sangat untuk melakukan sesuatu disertai dengan niat dan kesungguhan serta sering diimbuhi dengan kesenangan melakukannya.Malas yang kita bahas kali ini adalah yang positif dan Insyaallah bermanfaat bagi kita semua, Amin.
Selama ini kita didoktrin dengan definisi baku tentang malas dan rajin, bahwa malas itu jelek dan harus kita jauhi sedangkan rajin itu baik dan harus kita amalkan setiap hari. Bukan saya menentang atau tidak setuju akan hal tersebut. Saya 1000% setuju walaupun belum tentu mengamalkan doktrin ortu atau guru saya dulu. Ini hanya variasi cara pandang atau cara baca saja.
      Sekarang marilah kita mengupas Malas yang akan membuat kita SUKSES di sekolah ataupun di tempat lain.

Jumat, 23 Januari 2009

REMEDI TANPA AKHIR

REMEDI TANPA AKHIR

(Awal Pembodohan Bangsa)

Rencana pemerintah lewat Departemen Pendidikan yaitu : Peraturan agar semua anak didik harus tuntas dalam nilai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) merupakan blunder yang sangat berbahaya bagi kelangsungan dunia pendidikan di Indonesia. Mengapa bisa begitu? Awalnya program ini untuk merespon tuntutan dunia Perguruan Tinggi, yaitu Penerimaan Mahasiswa baru lewat jalur PMDK, Jalur Prestasi dan jalur-jalur khusus lainnya (bukan lewat jalur umum seperti SPMB/UMPTN dll) yang mensyaratkan bahwa siswa-siswa yang ingin menempuh jalur-jalur tersebut tidak mempunyai nilai yang tidak tuntas atau di bawah KKM sejak semester 1 atau kelas X.

Bila dilihat dari sisi Perguruan Tinggi yang mengajukan syarat yang sebegitu ketatnya maka bisa diambil sisi yang sangat positif yaitu Perguruan Tinggi mengharapkan input yang bermutu dari sma-sma sehingga nantinya juga bisa dihasilkan lulusan yang berkualitas tinggi juga. Selain itu juga, sebagai proses seleksi alam untuk menyaring yang benar-benar terbaik. Seperti yang kita ketahui SPMB, UMPTN ataupun SNMPTN apapun namanya yang merupakan jalur umum keberuntungan adalah faktor yang dominan apalagi diimbuhi dengan faktor perjokian menambah kurang fairnya persaingan lewat jalur umum.

Niat baik belum tentu berakhir dengan baik pula. Yang patut disayangkan adalah reaksi balik dari dunia pendidikan di bawahnya yang dalam hal ini adalah sma. Tuntutan dari perguruan tinggi disiasati dengan jalan mengadakan remedi berulang sampai siswa mendapatkan nilai yang sesuai KKM atau mendapatkan predikat tuntas dengan dalih agar semua siswa mendapatkan hak dan kesempatan yang sama. Hal ini disamping memberatkan bapak/ibu guru juga menjadikan anak sebagai korban, terlebih lagi perguruan tinggi juga akn merasa tertipu karena mendapatkan input yang tidak sesuai dengan standar kriteria yang ditetapkan.

Mengapa dikatakan memberatkan bapak ibu guru, alasannya adalah pemberian remedi berulang-ulang akan membuat guru berpikir dua kali untuk memberikan nilai sejujurnya kepada siswa. Kenapa? Jujur hal seperti itu hanya menambah beban pengajar karena disamping pemberian remedial test kita juga wajib memberikan remedial teaching sebelumnya, sedangkan kita dituntut agar terus menyampaikan materi lanjutan bagi siswa-siswa lain yang telah tuntas. Maka jalan singkatnya adalah dengan berat hati guru akan memberikan nilai tuntas kepada murid-muridnya (dengan pengecualian satu atau dua siswa dibuat remedi agar nilai terlihat wajar). Anak didik juga akan menjadi korban selanjutnya, dimungkinkan karena nilainyan tuntas semua maka proses penentuan jurusan akan menjadi absurd atau tidak jelas. Hal ini tentunya akan menyulitkan anak di kemudian hari. Bagi anak yang potensi dan minatnya ke ilmu sosial tapi terpaksa menempuh jalur ilmu alam atau sebaliknya entah karena motivasi sendiri ataupun pengaruh dari orang lain (biasanya menuruti keinginan orang tua) tanpa melihat kemampuan anak akan merasa tersiksa dan menyesal karena pilihannya yang salah. Selanjutnya perguruan tinggi akan merasa kecewa karena ternyata nilai-nilai yang disodorkan ketika mendaftar tidak sesuai dengan kenyataan kemampuan siswa.

Pada akhirnya marilah kita bijak dalm merespon segala hal dan tidak grusa-grusu menyikapi keadaan. Yang paling utama dalam usaha meningkatkan kualitas pendidikan bangsa Indonesia secara umum adalah berusaha untuk menerapkan dan mendidik kejujuran bagi semua anak didik dan hal tersebut akan sangat mudah dilaksanakan jika ”Mulai dari diri kita sendiri, mulai dari sekarang dan mulai dari hal yang paling mudah”

Minggu, 28 Desember 2008

TIPS MEMILIH LEMBAGA BIMBINGAN BELAJAR

MEMILIH TEMPAT LES UNTUK ANAK
Oleh: Safir Senduk

Dikutip dari Tabloid NOVA No. 855/XVI

Banyak sekali harapan dan keinginan orang tua terhadap anaknya, khususnya dalam soal pendidikan. Dan harapan ini sudah tertanam sejak awal tahun ajaran baru. Tak heran, setelah anak-anak mulai masuk sekolah, bukan hanya peralatan sekolah yang disiapkan, orang tua juga sibuk mencari tempat les agar anak-anak mereka tidak ketinggalan pelajaran.

Banyak sekali tempat-tempat les yang menawarkan pelajaran tambahan. Mulai dari pelajaran yang biasanya menjadi momok di kelas, seperti Matematika, IPA, Bahasa Ingris, hingga les-les yang berkaitan dengan pengembangan bakat aanak di bidang kesenian.

Inilah yang kadang membuat orang tua kebingungan, mana yang akan dipilih duluan. Bukan hanya itu, orang tua juga bingung mana tempat les yang terbaik buat anak, sehingga ujung-ujungnya uang yang di keluarkan tidak sia-sia. Nah, berikut ini ada beberapa hal yang perlu perhatikan sebelum memilih tempat les buat anak.

  • Perhatikan kualitasnya
    Mencari tempat les sama pentingnya dengan cari sekolah. Jangan asal murah maka kualitas tempat les tersebut Anda abaikan sama sekali. Seperti kata sebuah iklan motor di televisi: "Boleh murah tapi jangan murahan". Artinya, selain pertimbangan biaya, pertimbangkan juga kualitasnya. Ya nggak? Kenapa? Karena memang kualitas tempat les buat anak akan menentukan pula bagaimana kemampuan si anak kelak terhadap materi les yang diajarkan kepadanya. Pertanyaannya sekarang, bagaimana kita bisa tahu tempat les itu berkualitas atau tidak?

    Ada 3 cara. Pertama, perhatikan kualitas lulusan atau mantan siswa yang pernah belajar di sana. Anda bisa melihat atau menanyakan kepada mereka, bagaimana kualitas tempat les tersebut. Kalau memang kualitas lulusan atau mantan siswanya cukup berprestasi Anda bisa cukup yakin bahwa tempat les tadi cukup baik kualitasnya.

    • Yang kedua, lihat kemampuan staf pengajarnya. Anda harus memastikan apakah staf pengajarnya memiliki cukup pengetahuan, tahu bagaimana memotivasi siswa dan memahami karakter anak-anak. Yang ketiga adalah metode pendidikan yang ditawarkan. Pastikan bahwa metode pendidikan yang ditawarkan cukup baik. Dengan demikian, uang yang Anda keluarkan tidak akan sia-sia.Yang keempat perhatikan sistem belajarnya. Daftar pertanyaan yang mungkin bisa jadi acuan untuk mengetahui kualitas pelayanan dari suatu lembaga bimbingan belajar adalah:
    • Berapa jumlah anak didik dalam 1 kelas (kapasitas/daya tampung per kelas)?
  • Jumlah anak didik dalam 1 kelas akan banyak berpengaruh pada efektifitas kegiatan belajar mengajar. Logikanya semakin sedikit anak didik yang diajar dalam kelas akan membuat guru/pengajar lebih fokus terhadap materi dan perkembangan belajar si anak. Apabila dalam 1 kelas terdapat lebih dari 10 anak atau bahkan 20 sampai 30 anak per kelasnya, apa bedanya dengan sekolah formal yang telah mereka lalui pagi harinya. Hal ini penting sebab banyak LBB yang mengejar target profit dengan cara memperbanyak daya tampung kelas. Idealnya jumlah siswa dalam 1 kelas minimal 5 sampai 8 anak per kelas dan akan semakin baik kalau kelasnya homogen, dalam artian 1 sekolah atau 1 kelas.
    • Fasilitas apa yang diberikan oleh Lembaga Bimbingan Belajar tersebut?
    Fasilitas yang dimaksudkan disini adalah fasilitas yang berkaitan dengan kegiatan belajar. Penawaran fasilitas yang mewah al: AC, HOME TEATHRE,INTERNET dsb akan bernilai sebanding dengan jumlah uang yang dikeluarkan alias MAHAL SPPnya, padahal untuk yang bijak fasilitas-fasilitas tersebut akan lebih bermanfaat apabila diganti dengan jam bimbingan tambahan gratis, laporan berkala bagi orang tua (semacam raport) dan konsultasi gratis bagi siswa atau orang tua.

  • Cek lokasinya
    Nah, ini. Masalah lokasi itu cukup penting lho karena bisa berpengaruh banyak terhadap biaya transportasi yang akan Anda keluarkan untuk si anak. Kalau tempat lesnya cukup jauh dari rumah, maka biaya transportasi yang dikeluarkan akan cukup besar, selain ada risiko anak juga akan mengalami kelelahan di perjalanan yang ujung-ujungnya bisa berpengaruh juga kepada penguasaan materinya. Sebagai tambahan, selain biaya transportasi, Anda juga harus mempertimbangkan untuk memberikan sedikit tambahan uang jajan buat si anak selama ia belajar di tempat les.

  • Lihat lingkungannya
    Lingkungan les pendidikan biasanya akan berbeda dengan lingkungan sekolah karena teman-temannya juga akan berbeda, sehingga sangat penting memang untuk memperhatikan lingkungan tempat les yang akan dimasuki anak. Sebagai contoh, kalau lingkungan tempat les anak Anda berisi anak-anak yang sering jajan, maka ada kecenderungan anak Anda juga akan mengikutinya. Sehingga bisa berakibat si anak menjadi lebih boros dan tidak lagi fokus kepada proses belajarnya, malahan mungkin bisa jadi ia sibuk jajan dan bermain dengan teman-temannya tadi.

    Contoh lainnya, ternyata teman-teman les si anak adalah anak-anak yang berperilaku kurang sopan dan nakal. Hal itu tentu sedikit banyak bisa berpengaruh terhadap diri si anak. Kalau ia tidak cocok, maka ia akan cenderung menyendiri. Tetapi kalau ia cocok dan ingin ikut-ikutan, maka ia bisa saja jadi berperilaku seperti teman-temannya tadi. Jadi, sekali lagi, lingkungan belajar yang baik, akan memberikan manfaat yang baik pula bagi anak Anda. Ujung-ujungnya, lagi-lagi, uang yang Anda keluarkan tidak akan sia-sia kalau memang Anda bisa memilih tempat les yang memiliki lingkungan yang baik.

  • Ajak anak Anda
    Yang akan mengikuti les itu adalah anak Anda, bukan Anda. Karena itu, coba deh ajak dia untuk ikut mengecek tempat-tempat les tersebut sebelum Anda betul-betul memasukkannya ke situ. Sesekali tanyakan padanya apakah ia cocok dengan tempat kursus tersebut. Tanyakan juga padanya apakah ia nyaman dengan lingkungan tempat lesnya. Sebagai tambahan, pastikan juga bahwa ia tidak merasa terpaksa mengikuti les belajar tersebut. Ingat, jangan terlalu memaksakan kehendak Anda pada dirinya. Berusahalah untuk membujuknya dengan cara-cara yang menarik, agar ia juga bisa menikmati proses belajar yang ia jalani.

    Nah, Bapak - Ibu, itu tadi beberapa tips dalam memilih tempat les buat anak. Mudah-mudahan, dengan tips-tips tersebut, uang yang Anda keluarkan untuk membayar biaya les mereka jadi lebih berguna dan bisa dimanfaatkan dengan baik oleh si anak. Salam.